Friday, November 17, 2006

Negeri Impian

Jika anda adalah seekor kancil yang sedang kehausan, berhati-hatilah ketika meminum di aliran sungai yang tenang. Karena di balik ketenangannya terdapat berbagai predator kelaparan.

Jika anda seekor lalat yang kelelahan setelah lama terbang, berhati-hatilah terhadap jaring laba-laba yang tampak begitu lembut. Salah sedikit anda akan terjebak selamanya.

Jika anda seorang manusia dengan cita-cita, berhati-hatilah terhadap negeri impian yang berada nun jauh di seberang sana. Bisa jadi semuanya hanyalah jebakan yang akan memeras habis segala potensi jasad dan jiwa anda untuk kehampaan.


Ada sebuah cerita ironis mengenai seorang bijak yang telah meraih segalanya di dunia. Beliau, dengan kreativitas dan kerja kerasnya, telah meraih kebebasan finansial sejak usia muda. Bermodalkan inilah ia bisa membahagiakan kedua orang tuanya dan membantu handai taulan yang membutuhkannya. Ia mempunyai istri yang paling cantik dan anak-anak yang sehat dan pandai. Tahun demi tahun pun berlalu. Di hari senjanya, mendadak beliau dihinggapi kebingungan, untuk merasa berbahagiakah karena telah meraih segalanya di dunia, ataukah harus berduka karena akan segera meninggalkannya.

Sementara itu di sisi lain dunia, banyak kita temui orang-orang yang menjauhi kehidupan duniawi, dan memilih mengisi hari-harinya dengan beribadah dan bersemedi. Ironisnya, jalan hidup yang mereka pilih pun tidak terlepas dari rasa kecewa, karena selain tidak bisa menikmati kehidupan dunia, merekapun tidak mutlak menjadi yang teratas di akhirat kelak. Alasannya sederhana saja, kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang kalah bersaing dalam kehidupan dunia dan memilih mengasingkan diri daripada menanggung beban dan malu.

Agar tidak salah memilih jalan hidup dan kecewa di kemudian hari, ada gunanya juga jika kita sejenak merenungkan kembali nasehat bapak dan ibu guru di SD dulu. “Jajanan yang enak belum tentu sehat, dan sebaliknya makanan yang sehat dan baik tidak harus lezat.”


“Menjadi bijak tidak berarti meninggalkan masalah keduniaan, melainkan mendudukan masalah bumi dan langit pada tempatnya masing-masing”

“Belajar dari pengalaman organisme yang lebih rendah dari kita, ternyata semakin canggih mekanisme pertahanan seekor binatang bersamaan dengan itu para predatornya pun akan mengembangkan strategi yang jauh lebih efektif. Zaman penjajahan dan era keterbelakangan boleh jadi sudah kita lewati, namun bahaya yang jauh lebih mematikan sedang menunggu di depan kita”

Mereka Yang terpinggirkan


Ikan Louhan dalam aquarium cukup gembira dengan air bersih dan makanan secukupnya.
Para penganut aliran kepercayaan akan dengan sukarela memotong kemaluannya jika Tuhan mengkehendaki.

Mereka yang terpinggirkan telah berhasil melakukan hal yang bahkan tak bisa dilakukan oleh Bush dan Osama.


Apakah seks merupakan sebuah kebutuhan primer seperti halnya makan dan minum? Jika anda menjawab ya, maka perkawinan dua sejoli adalah sebuah impian, sebuah cita-cita yang tak tergantikan; Jika anda menjawab tidak, maka perkawinan adalah sebuah pilihan yang ada keuntungan dan ada kerugiannya.

Para artis sepakat menjawab kalau orang-orang yang menabukan indahnya tarian dang dut, yang menentang di mulut namun menerima di bawah, adalah seorang munafik. Untuk kebanyakan artis, seks memang merupakan sebuah kebutuhan primer. Atas dasar ini maka memungkiri berarti munafik.
Para eksekutif muda berkata bahwa tanpa kecantikan seorang wanita, dunia beku ! Untuk kebanyakan orang kantoran, seks adalah sebuah kebutuhan primer. Memungkiri berarti awal dari kejatuhan.
Makanya para kyai kita dimana-mana begitu sibuk menekankan pentingnya arti sebuah pernikahan, mulai dari masalah indahnya pernikahan dini hingga makna berpoligami. Untuk kebanyakan kyai, seks merupakan sebuah kebutuhan primer. Memungkiri berarti melanggar sunatullah.

Hal ini akan dibantah sedemikian rupa jika anda bertanya pada mereka yang terpinggirkan.

Binatang di dalam kandang mungkin sengsara dalam kesendiriannya; Para penganut yoga mungkin orang-orang yang bodoh; Para sufi dan pendeta pengembara mungkin sedang melanggar sunatullah dengan menolak kawin. Tetapi mereka telah berhasil membuktikan bahwa seks bukan kebutuhan primer untuk meraih cita-cita dan impian. Mereka juga telah menjadi bukti nyata betapa pernikahan ternyata terlalu kecil untuk dijadikan tujuan dalam sebuah kehidupan.

“Seks itu nikmat dan perlu. Tapi tetap saja ia tidak lebih utama dari keluarga, akal, nurani dan agama, atau bahkan urusan perut sekalipun”

“Lucu sekaligus iba rasanya melihat orang tua yang sudah punya cucu sibuk mikirin kawin; Atau anak muda yang rela mengorbankan cita-cita masa kecilnya demi pacar. Tidakkah mereka sadar kalau hidup terlalu istimewa untuk dijadikan tempat beranak saja”

Kemilau Wanita

Binatang-binatang betina dari berbagai spesies selalu nampak low profile.
Wanita-wanita Islam selalu berusaha menjaga kemaluan dan pandangannya.

Mungkin mereka sadar kalau dunia sudah terlampau menyilaukan, sehingga tidak seharusnya dijadikan tempat yang lebih kemilau lagi.

Sang Cenderawasih Kirana

Sekelompok lelaki, tua dan muda, dibuat terpana oleh keindahan seorang wanita. Setiap kata yang mengalun dari bibirnya, setiap inci tubuhnya, terlihat begitu indah dan sempurna.

Sekelompok cenderawasih jantan sedang berlomba memamerkan bulu-bulu indahnya. Tak lama lagi mereka akan bertarung sampai mati demi memperebutkan sang betina.

Cerita tentang mahluk-mahluk cantik dari berbagai spesies, mengajarkan pada kita, bahwa untuk menjadi sang Cenderawasih Kirana anda tak harus betina.


Dalam dunia binatang, pada umumnya yang memiliki daya pesona tinggi adalah kaum jantannya dengan kilau dan keanggunannya. Sedang si betina biasanya berkulit redup dan nampak sangat membosankan. Yang lucu adalah pada akhirnya yang saling seruduk berebut cinta justru kaum jantannya. Rusa-rusa dengan tanduknya; Singa-singa dengan surai dan cakarnya; Ular-ular dengan tarian mautnya. Tinggal kita yang mengamati kebingungan, mengapa betina yang jelek begitu menjadi bahan rebutan jantan-jantan yang indah, dan bukan sebaliknya ?.

Hal yang sama kita saksikan dalam dunia manusia. Anak-anak muda dengan gairahnya; Om-om kesepian dengan kantong tebalnya; Dan kyai-kyai dengan sorban putihnya yang melambai-lambai. Mereka dibuat terpesona mampus oleh mahluk bernama wanita. Padahal mungkin, Tuhan menciptakan kaum lelaki beberapa derajat lebih tinggi. Tapi mengapa gerangan sang betina jadi kelompok yang indah dan kita jadi yang jorok ?.

Bicara keindahan dan kecantikan wanita saya jadi teringat Luna Maya dan Darwis Triadi. Ketika foto-foto sensual mereka dipertanyakan oleh khalayak ramai karena dianggap pornografi, mereka serempak berdalih kalau semuanya demi keindahan dan seni. Ada betulnya juga sih. Cuma mungkin kita juga mesti mafhum kalau tanpa nafsu, model-model itu dan fotografernya sekalian tidak akan menjadi sekaya itu.


“Kalau sekedar bersaing memperebutkan sang pujaan hati, itu bisa dimaklumi. Tapi kalau sampai keluarga, nurani dan kepercayaan jadi tumbalnya, sungguh anda lebih rendah dari binatang”

“Wanita memang indah. Tapi kalau sampai kita rela merogoh uang Rp 30.000 setiap bulannya untuk membeli majalah sensual, dan seribu ribu rupiah setiap minggunya untuk para fakir, maka ini bukan lagi masalah keindahan melainkan nafsu”

Bocah-bocah ingusan

Gurat nadi pengemis cacat yang berjalan dengan tangannya.

Keluhan panjang para pecundang yang baru saja kalah bermain sepak bola.

Bocah-bocah kecil yang tidak henti-hentinya mengelap ingus dengan tangannya.

Semuanya mengisyaratkan jika indah itu masalah rasa dan bukan kelamin. Semuanya indah dalam kadarnya masing-masing.


Benarkah wanita cantik adalah mahluk yang paling indah ? Secara manusiawi penulis mengakui hal ini benar adanya. Siapa sih yang betah melihat laki-laki berbulu telanjang atau perempuan gendut memakai bikini. Yang ada bukannya keindahan melainkan rasa eneg dan muak. Lain halnya jika yang pamer tubuh seorang wanita seksi dan sensual. Jangankan yang muda, yang tua juga keblinger; Jangankan yang laki, yang cewek juga keki dibuatnya. Enggak salah emang omongan para eksekutif kita kalau wanita cantik tuh sumber inspirasi.

Hingga beberapa saat lalu penulis jatuh sakit. Kepala pusing berat, kuping mengiang-ngiang dan gigi senyut-senyut. Acara TV yang memamerkan keindahan wanita malahan membuat saya muak dan eneg. Sebaliknya saya dibuat terharu oleh kebaikan para kerabat sekalian yang masuk kategori tampang rata-rata. Ternyata setiap mahluk hidup dan benda mati mempunyai kadar keindahannya masing-masing. Semuanya bisa memberikan inspirasi tentang kehidupan dengan caranya sendiri.

Untuk bisa melihat keindahan segala sesuatu dalam bentuk dan kadar sebenarnya, ada gunanya juga jika kita berpuasa menahan hawa nafsu seksuil beberapa saat lamanya. Setelah itu mungkin kita akan benar-benar bisa melihat langit sebagai tempat segala sesuatu menuju, dan bumi sebagai tempat semuanya berpijak.


“Berlian takkan jadi semulia itu, sekali seseorang mau melihat betapa banyak darah telah bercucuran memperebutkannya”

“Nyatanya kalau bukan karena nafsu, model-model sensual itu sama sekali tak punya cahaya yang menyejukkan, malahan bikin eneg. Tatapan mata yang kosong, pikiran dangkal dan tulang yang menonjol di mana-mana”

Tuesday, November 07, 2006

Kecewa Karena Cinta

Bukankah sudah kukatakan kalau batu itu keras dan air itu lunak

Dan kau memilih menjadi batu yang keras dan kokoh
Sedang aku adalah kaca tempat bercermin dan tercermin

Ketika kuserang kau, aku hancur berkeping-keping
Ketika air menetes, kau hilang terkikis

Dan kini…, ketika tiba air terjun
Kau termenung lama…

Bukankah sudah kukatakan kalau kau adalah manusia, dan manusia bukan batu

Sebesar Belalai Gajah

Wahai tuan ingatkah anda alasan Tuhan mengeluarkan Adam dari surga. Bukan karena beliau kurang beribadah atau karena beliau kurang pintar, melainkan akibat ketidakmampuannya membedakan antara perintah Ilahi yang suci dan bisikan iblis yang mengalir indah lewat bibir lembut wanita cantik.

Kelak di pengadilan Yang Maha Kuasa, ketika tuan dan nyonya muda hendak melangkahkan kaki ke surga, saya bersama para penzinah lainnya akan memohon kepada al-Akbar agar menganugerahi tuan dengan kemaluan sebesar belalai gajah.
Kiranya al-Hakim memperkenankan doa tulus kami. Karena bagaimanapun kami tak cukup lancang sampai berani mempermainkan nama Yang Maha Mulia.

Manusia-manusia Super

Bayangkan seorang pemuda yang berlatih keras dari hari ke hari untuk membentuk badannya.
Ketika saatnya tiba ia akan sekekar poster-poster yang berjejer di kamarnya

Kini bayangkan seorang anak manusia yang biasa mempermak dirinya dengan berbagai atribut agama.
Di hari senjanya kelak tanpa rasa malu ia akan menutupi alat kelaminnya dengan Alquran yang suci.
Sebagaimana ada manusia yang benar-benar gagah dan terhormat, ternyata di sekitar kita ada juga manusia-manusia yang super hina dan laknat.

Lingkaran Setan

Lingkaran Setan adalah sebuah permainan dimana para pesertanya duduk bersama membentuk sebuah lingkaran dan kemudian saling membuka aib satu dengan lainnya

Lingkaran Setan adalah sebuah tempat dimana sang polisi yang katanya pembela keadilan, ternyata tidak lebih baik dari para mafia jalanan yang katanya kaki tangan setan

Lingkaran Setan adalah sebuah situasi dimana seorang anak tidak bisa mengadukan keluh-kesahnya kepada kedua orang-tuanya, mengingat mereka adalah sumber masalah itu sendiri

Apapun jua, yang jelas Lingkaran Setan tidak lahir dengan sendirinya dan karenanya ia takkan hilang dengan sendirinya pula.
Apapun jua, yang jelas Lingkaran Setan mengajarkan pada kita kalau masalah keadilan dan perdamaian dunia takkan bisa diselesaikan oleh Bush apalagi Osama

Babi-babi Yang Kelaparan


Seorang lelaki tua memanjatkan syukur alhamdulillah melihat istri tuanya dapat menerima kehadiran sang kekasih muda di bawah naungan majlis taklim.
Di tempat lain, seorang ibu tengah baya tersungkur menangis melihat gadis kesayangannya di lamar seorang pemuda gagah berkerah putih.

Dengan diringi tepuk tangan meriah seluruh penghuni alam, masa depan nan indah telah menanti.

Seperti sapi-sapi, ayam-ayam dan babi-babi yang mengendus keras menyantap makanannya; Menunggu untuk disembelih oleh yang empunya.


Sebenarnya sudah terlalu banyak kisah indah sepasang sejoli yang berakhir tragis untuk diceritakan kembali di sini. Di layar kaca, tabloid-tabloid, kita menyaksikan bagaimana pasangan-pasangan artis dengan segala kesempurnaannya ternyata harus mengakhiri kisah indah mereka lewat perceraian, dilanjutkan dengan perebutan harta gono-gini, laporan tindak pidana dan seterusnya.

Penulis sendiri sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kebahagiaan, tak peduli sekokoh apapun, ternyata harus berakhir kelak. Seorang nenek dipaksa merelakan kepergian sosok suami yang telah melindunginya selama puluhan tahun; Seorang anak harus kehilangan keluarga tempatnya bernaung setelah munculnya pihak ketiga. Kesimpulannya, kisah cinta sepasang merpati, kasih sayang tak terhingga orang tua terhadap anaknya, dan lain sebagainya, hanyalah ilusi dan bayangan kebahagiaan yang bersifat sementara.

Saya jadi teringat kisah manusia-manusia guanya Plato. Sejak lahir manusia sudah dipaksa melihat bayang-bayang di dinding gua. Di belakang mereka ada kobaran api dan barisan para budak dengan membawa berbagai barang. Manusia-manusia gua menganggap bayang-bayang tersebut sebagai realitas. Hingga suatu hari seseorang diantara mereka berhasil lepas dari segala belenggu kehidupan, keluar dari gua dan melihat matahari yang bersinar serta alam yang berseri untuk pertama-kalinya, lalu kembali untuk menceritakan pengalamannya pada manusia lainnya.

“Di balik keindahan kasih sepasang sejoli, tersembunyi insting binatang buas yang akan menerkam apapun yang mendekat”

“Kenyataannya, manusia diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan tertentu. Selama tujuan itu belum tercapai, tidak sepatutnya kita menyia-nyiakan hidup di dunia dengan berbagai tetek-bengeknya”

Hancur Bersama Debu


Seorang pelacur yang memilih merelakan kehormatannya dicabik-cabik, daripada melihat buah hatinya terlantar
Seorang teroris muda yang memilih hancur berkeping-keping, daripada berpangku tangan melihat nenek moyangnya diumpat

Ketika mentari terlalu terik untuk dihalau dan badai terlalu deras untuk dihalang. Di saat itulah kita harus berpikir ulang untuk maju dan hancur bersama debu atau mundur dan bergabung bersama para pecundang


Seorang ibu tengah baya nekat menjalani operasi sedot lemak. Sang ibu sadar benar bahaya yang mengiringinya keputusannya ini. Ia tak lagi muda dan Tuhan Maha Mengetahui betapa penyakit jantung dan darah tingginya bisa kumat sewaktu-waktu. Dalam pandangannya ia hanya ingin nampak cantik dan berseri kembali sehingga sang suami tidak harus berpoligami dengan si wanita berjilbab, hanya untuk memenuhi hasrat seksualitasnya yang membara. Beberapa minggu kemudian beliau meninggal.

Kini sang anak, yang begitu shock dengan kematian orang yang paling dicintainya, tak pelak menjadi begitu muaknya dengan tingkah laku sang ayah. Ia tak habis pikir mengapa gerangan sang ayah sampai rela mengizinkan ibunya mengambil tindakan ekstrim demi melangsingkan tubuhnya; Ia tak habis pikir mengapa gerangan ibunya yang masuk rumah sakit dalam keadaan sehat harus keluar menjadi mayat; Ia tak habis pikir mengapa kyai-kyai itu begitu mudahnya berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar segera mengganti beliau dengan seseorang yang lebih baik; Ia tak habis mengerti bagaimana gerangan wanita-wanita berjilbab yang dipujanya itu bisa sedemikian teganya menyakiti hati keluarganya.

Sang anak hanya bisa mengutuk dalam hati dan berjanji pada langit untuk tidak menjadi seperti sang ayah yang gila perempuan; Para dokter keparat dan kyai-kyai gadungan yang mengira uang bisa menyelesaikan segalanya; Dan si wanita berjilbab yang naïf dan munafik.

Bersama sang anak ada sekumpulan buruh yang mati-matian bertahan hidup di Jakarta dan menolak pulang kampung demi mempertahankan satu-satunya harga diri yang masih dimiliknya; Bersama sang ibu ada janda-janda tangguh yang menolak rujuk dengan suami yang menduakannya, walaupun sebagai akibatnya ia harus menerima kutukan para ahli surga.


“Orang-orang berprinsip jelas akan segera habis di sapu ombak, namun setidaknya mereka tidak mundur sebelum bertempur”

“Orang-orang merdeka bukanlah mereka yang bebas berbuat semaunya, melainkan mereka yang mampu melepaskan diri dari berbagai belenggu dunia dan berpikir secara mandiri tentang semua”

Sunday, November 05, 2006

Bidadari dari Kahyangan


Igauan kaum pemuda tentang turunnya bidadari dari kahyangan.
Eluan para tetua yang merindukan datangnya sang ratu adil.
Ocehan bocah-bocah mengenai cinta tulus seorang ibu.

Bersama-sama dengan burung yang bernyanyi dan daun-daun yang berbisikan, semuanya sedang mengenang sosok sempurna sang Maha Pencipta.


Sedih rasanya hati ketika orang yang paling kita sayangi dalam hidup ini ternyata harus pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Lebih sedih lagi jika kepergiannya ternyata diiringi embel-embel yang berbau kurang sedap.

Dalam keadaan seperti ini, satu-satunya sarana melepas rindu adalah dengan bercerita dan mengenang sosoknya bersama para kerabat dan sahabat yang senasib-sepenanggungan. Biasanya kami akan tertawa sendiri mengingat tingkah-laku sang kekasih yang “semaunya” dan kemudian menangis di hati ketika sadar bahwa justru hal-hal seperti itulah yang paling kami rindukan.

Ternyata yang kami rindukan bukanlah sosok gemuknya, namun kebesaran hatinya; Ternyata yang kami kenang bukanlah senyum khasnya, melainkan kehangatannya yang tulus; Ternyata yang kami impikan selama ini bukanlah fisiknya, tetapi sosok seseorang yang menyayangi kami.

Mungkin ada benarnya juga konsep “penggerak tak tergerakkan”nya Aristoteles. Hidup ini ibarat sebuah mesin raksasa yang digerakkan oleh roda-roda bergerigi. Didalamnya terdapat sebuah roda inti bernama Tuhan, yang apabila Ia berhenti berputar maka mesin raksasa itu akan segera mati pula.


“Kisah para pencari kebenaran mengajarkan pada kita untuk takut hanya pada ketakutan itu sendiri; mencintai cinta itu sendiri; dan merasa bahagia cukup bersama kebahagiaan itu sendiri”

“Para maniak seks, harta, dan pasangan gila anak merupakan gambaran nyata betapa manusia sesungguhnya, jauh didalam hatinya, begitu rindu untuk kembali berkumpul bersama sang Maha Sempurna”

Puisi Merah


Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai…
Mungkinkah posisinya digantikan?

Ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi…
Akankah kemudian cita-cita bersama dahulu ikut mati terkubur?

Apakah memulai sesuatu yang baru dan meninggalkan yang lama di belakang
Adalah tindakan yang paling bijak?

Tidak!
Karena dengan begitu kita akan menjadi binatang
Yang memakan bangkai majikannya sendiri

Masa lalu tidak boleh ditinggalkan
Karena dengannyalah akan ditemukan hikmah

Masa lalu tidak boleh dilupakan
Karena dengannyalah menanti masa depan yang lebih baik

Masa lalu tidak boleh dikhianati
Karena dengannyalah indahnya kematian menjadi nyata!

Untuk Mereka Tercinta


Kepada anak-anak kecil yang biasa bersembunyi di balik ketiak ibunya
Kepada para hamba sahaya yang biasa menjilati pantat majikannya
Kepada para wanita cantik yang biasa bersujud di telapak kaki kekasihnya

Harap maju ke depan...
Karena ibu anda adalah wanita yang lemah
Karena tuan anda adalah seorang renta yang rapuh
Karena kekasih anda adalah seorang pemuda yang kebingungan

Dan untuk para ulama tercinta. Mohon jangan merendahkan kemuliaan Tuhan dengan menjadikannya topeng kebobrokan anda


Masih terbayang rasanya sosok ibunda tercinta yang selalu dengan sigap membela kita dari berbagai ancaman luar, tanpa mempedulikan sejuta kelemahan yang dimilikinya. Suatu hari pernah beliau harus berurusan dengan seorang preman berwajah garang, gara-gara anaknya baru saja memecahkan genteng rumah sebelah dan kabur begitu saja. Tidaklah mengherankan jika kemudian si anak, yang baru saja di tinggal mati ibunya, akan segera mencari pelampiasan di sosok-sosok lainnya.

Begitulah kemudian seorang gadis sampai rela membuang kehormatannya demi mempertahankan dekapan hangat sang pemuda sehari lebih lama. Begitulah kemudian seorang pemuda mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan menjemukan, demi sesuatu yang ia sendiri tak yakini kegunaannya.

Bagaimanapun kami adalah orang-orang yang beriman. Kami yakin akan adanya kehidupan setelah mati yang lebih kekal dan hakiki. Mungkin ia yang tercinta tak lagi bisa melindungi kami, namun kami masih mampu melindunginya dari berbagai keburukan. Dengan mendoakannya, dengan menjalin tali silaturahmi, dengan melunasi segala urusan dunianya, dengan memenuhi cita-citanya yang belum kesampaian. Hingga tiba saatnya tuk kembali bersua.


“Sebagaimana bulan dan bintang bergerak dalam porosnya. Manusiapun mempunyai hukumnya sendiri, dimana yang kuat akan menjadi tak berdaya, dan yang lemah berkesempatan membalas budi yang kuat”

“Para pecundang bukanlah mereka yang mengaku sebagai ‘anak mama’. Melainkan mereka yang tak mau mengakui betapa besar jasa sang ibu, dan mereka yang tak mau tahu betapa ia sudah sepantasnya kini menjadi yang melindungi”

Saturday, November 04, 2006

Dunia Antara


Nabi Muhammad bukan seorang gelandangan yang rela ditendang demi sesuap nasi; Namun beliau juga bukan seorang nobel yang rela mengorbankan kekasihnya demi rakyat.

Muhammad yang mulia takkan pernah membunuh kecuali untuk mencegah lahirnya pembunuh yang lain; Karenanya beliau akan mengampuni nyawa pembunuh sahabatnya demi mencegah dirinya menjadi seorang pembunuh.

Untuk memasuki Dunia Antara, bersama Muhammad dan kekasihnya, seseorang perlu terlebih dahulu menyadari hakikat syariat agama. Karena selain kegelapan, adalah cahaya yang bisa menyebabkan kebutaan.


Beberapa tahun lalu penulis sempat mengadakan studi banding bersama teman-teman Madania ke salah satu kantor Islam Ahmadiah di daerah Parung-Bogor. Dalam sesi tanya jawab, kami mempertanyakan banyak hal mulai dari landasan pemahaman keagamaan mereka yang nyeleneh, karakter para pemeluknya yang tertutup, hingga sumber dana mereka yang misterius. Kami hanya bisa manggut-manggut tanda setuju ketika nara sumber menjawab semua pertanyaan yang kami ajukan dengan baik dan memuaskan, tentunya dari sudut pandang mereka. Yang menarik adalah ternyata kami sama-sama setuju kalau Alquran adalah ummul kitab, Muhammad adalah Nabi paling agung dan pentingnya pembaharuan dalam Islam.

Dalam sebuah diskusi sejarah di kampus UIN tercinta, terkuak sebuah pertanyaan menarik seputar kegagalan pembaharuan dan modernisasi di negara-negara Islam. Bagaimana tidak, sementara Jepang dan Cina kini berhasil menjadi salah satu poros kekuatan dunia, sekularisasi dan westernisasi Republik Turki yang sudah bergulir sejak awal abad 20, justru harus mengalami berbagai hambatan dan menerima nasibnya sebagai salah satu negara termiskin dan terbelakang di Eropa saat ini. Siapakah yang harus disalahkan, para pembaharu Islam yang terlalu pro Baratkah ?; Masyarakatnya yang berantem terus dan berpikiran kolotkah ?; Ataukah Islam sebagai ajaran ternyata memang benar-benar anti kemajuan sebagaimana kata seorang orientalis.

Sungguh bukan pada tempatnya jika kita membahas masalah di atas. Yang jelas ketika kita hendak berdiskusi tentang masalah-masalah yang sentimental, mungkin ada gunanya juga jika kita mengingat kata-kata seorang bijak. “Perbedaan cara pandang dan berpendapat dalam agama itu justru sebuah anugerah tersendiri, sebagaimana taman akan semakin semarak dengan adanya bermacam-macam bunga dengan warna dan semerbaknya masing-masing.”

“ibarat buah-buahan, agama juga punya kulit, daging dan bijinya. Ketika seseorang hanya mengambil kulitnya saja tanpa daging dan bijinya, maka ia akan menjadi teroris, sufi-sufi keblinger atau kyai-kyai bahlul”

“Yang lucu adalah, setiap agama bertujuan menjadikan dunia sebagai tempat yang damai dan sejahtera, namun dalam perjalanannya justru acap kali menjadi biang kerok berbagai fitnah dan peperangan”

Hidup Untuk Selamanya


Kematian nabi tidak serta-merta membuat umat setelahnya menjadi dikesampingkan

Ketidak-relevanan sebuah ayat Alquran tidak serta-merta menjadikannya usang

Ketidakberdayaan seorang tua tidak serta-merta menjadikannya sampah masyarakat

Tanpa kehadiran mereka kita mungkin takkan pernah ada. Karena itu mereka hidup selamanya.


Saudara, tahukah anda apa kegunaan puser dalam menunjang kehidupan anda ? Dalam keadaan normal, puser memang tidak mempunyai fungsi apapun bagi anda saat ini. Namun bukan berarti ia diciptakan untuk kesia-siaan dan tanpa tujuan. Ketika anda masih berbentuk embrio di dalam janin ibu anda, puser memegang peranan besar dalam menghidupi anda. Pun demikian sewaktu-waktu ia bisa direfungsikan kembali jika memang diperlukan, seperti ketika saluran pembuangan anda rusak sehingga harus dialihkan ke anggota badan lainnya. Atau mungkin jika anda wanita cantik, sedikit pamer puser bisa membantu anda mendapatkan uang dengan cara mudah.

Kini saudara, bisakah anda melihat alasan kami menentang beberapa ayat Alquran yang kami anggap tak lagi layak ? Sungguh bukan maksud kami merendahkan derajat kemuliaan Alquran, kami hanya berusaha mendudukan segala sesuatu pada tempat sepantasnya; Sungguh sebenarnya yang kami pertanyakan bukanlah masalah kebenaran berita yang di bawa Alquran, melainkan kapan dan dalam situasi seperti apa ia digunakan.

Dengan demikian di masa kini, dimana segala sesuatunya telah mengalami perubahan secara signifikan di banding 1500 tahun yang lalu, beberapa ayat yang membahas masalah poligami dan jihad dalam peperangan fisik tidak lagi berlaku dalam keadaan normal, melainkan dalam keadaan yang serba spesifik.


“Nyatanya Alquran dan alam seluruhnya tidaklah memiliki arti apa-apa jika bukan manusia yang memberikan, dengan pikiran dan rasa yang dimilikinya”
“Kebanyakan yang bertengkar itu bukannya antara pembela Alquran dan penghinanya, melainkan antara satu kubu melawan kubu lainnya dengan kepentingannya masing-masing”

Mendobrak Pintu Langit

Akan kudobrak lebur pintu-pintu langit keagungan-Mu
Akan kululuh-lantahkan api-api hijab keperkasaan-Mu

Dan pada saat itu…
Langit akan kuubah menjadi ayam
Dan ayam akan kuubah menjadi langit

Friday, November 03, 2006

Perdamaian Dunia

Tuhan adalah sang pencipta bulan. Bulan bersama benda-benda langit lainnya bergerak dalam orbitnya masing-masing. Manusia menjadikan bulan dan langit sebagai sumber inspirasinya

Dalam bahasa matematisnya, Tuhan bergerak dari nol ke satu. Alam berkembang dalam kompleksitas angka satu. Manusia bergerak dari angka satu ke angka-angka lainnya.

Dengan menempatkan segala sesuatu pada tempat sepantasnya, keadilan dan perdamaian dunia tidak hanya menjadi sekedar mimpi.


Dalam sebuah perdebatan di dunia maya, seorang ateis yang mengaku mantan Islam, berkali-kali menegaskan kalau Tuhan sudah mati. Tuhan hanyalah sebuah konsep yang bisa digambarkan oleh setiap manusia sesuka hatinya. Tuhan bisa saja berdiri di samping Bush atau Osama. Tuhan sah-sah saja dikatakan berkepribadian tiga, atau berlengan empat, atau bahkan tak berwujud sama sekali. Semuanya hak anda untuk menentukan.

Kita sebagai orang-orang beriman tentu saja tertawa mendengar pernyataan ini. Tapi coba lihatlah betapa kacaunya umat sekarang. Para kyai cuma bisa membeo; Para intelektual sombongnya minta ampun; Wanita-wanita berjilbab bertingkah laku seperti pelacur yang kebetulan hidup di tengah-tengah masyarakat berbudaya Arab; Para om-om berduit seenak jidatnya melakukan poligami dengan berbagai dalil yang dibelinya.

Tuhan jelas ada, namun dimanakah gerangan Ia sekarang ketika umat begitu membutuhkannya ?; Jika manusia benar-benar Khalifah-Nya di muka bumi, maka dari sisi manakah letak superioritasnya atas seru sekalian alam ?; Kalaulah Islam benar-benar agama sempurna, maka kemanakah perginya singgasana yang acapkali dijanjikannya ?.

“Mungkin ada benarnya juga kata orang-orang ateis kalau Tuhan sudah ‘mati’. Tapi kan itu tidak serta-merta berarti Tuhan tidak ada, atau Dia takkan kembali lagi kelak”
“Satu-satunya hal yang membedakan kita dari kaum kafir terkutuk, hanyalah karena kita kebetulan lahir sebagai orang Islam yang dijamin masuk surga, sedangkan mereka bernasib sial karena lahir kafir yang ditakdirkan masuk neraka”

Dunia Bolak-balik


Menyedihkan. Sementara masyarakat pinggiran berjibaku untuk merayakan hari lebaran bersama keluarga yang dicintainya, ternyata orang-orang besar terlalu sibuk untuk bekerja mencari nafkah.

Ironis. Sementara orang-orang kafir jahiliah mentertawakan praktek poligami, kyai-kyai kita malahan sibuk menjajakan indahnya berpoligami.

Dalam dunia yang sudah di bolak-balik, agama menjadi sumber masalah dan uang sebagai solusinya


Dahulu kala orang-orang kafir jahiliah menjadikan wanita sebagai objek seksuil semata. Islam datang dengan membawa misi pencerahan kalau wanita adalah manusia juga yang punya hati dan martabat.
Masa kini orang-orang kafir berusaha mati-matian untuk setia terhadap wanita pilihannya. Sementara itu sang wanita berusaha untuk bersikap mandiri dan tegar. Sebagian umat Islam memilih menutup mata tentang kenyataan kalau kaum lelaki kini tidak lebih perkasa dari para wanita, dan dengan segala cara berusaha mempertahankan hak eksklusif mereka atas wanita.

Penulis sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para istri zaman sekarang lebih memilih bercerai daripada dimadu; Saya sudah melihat sendiri bagaimana kaum wanita kini dapat berdiri di atas kakinya sendiri; Anda semua tahu kalau satu-satunya alasan para lelaki bangkotan berduit itu melakukan poligami adalah nafsu; Sudah jadi santapan kita sehari-hari kalau pernikahan sekarang tidak lagi lewat perjodohan, melainkan atas dasar suka sama suka dengan diiringi janji untuk saling menghormati dan setia. Lalu mengapa gerangan poligami masih saja dijadikan sesuatu yang sakral melebihi nurani dan akal sehat ?.

Ada sebuah pembalikan semangat di sini. Dahulu agama membawa misi pemberadaban, namun kini oleh sebagian umatnya ia dijadikan sarana pembar-baran. Dahulu agama dijadikan alat pembela nurani yang tertindas, namun kini ia dijadikan alat penindas nurani.

Penulis jadi teringat sebuah kisah Nabi. Suatu hari Ali datang kehadapan Nabi, dan meminta izin untuk menikah lagi. Nabi pun mengecam tindakan Ali yang hendak memadu Fatimah, putri tercintanya. Nabi berkata, “Kalau kau sampai menyakiti hati Fatimah maka kau seperti menyakiti hatiku.”


“Kalau benar seseorang berpoligami dengan alasan selain nafsu, maka mengapa gerangan mereka selalu memilih daun-daun muda dan menyapu bersih janda-janda tua ?”

“Sehina-hinanya manusia adalah yang mengaku beragama, namun ia hanya mendengar nasihat-nasihat moral-etika-spirituil yang menguntungkan dirinya”

Thursday, November 02, 2006

Cahaya Rembulan


Kebenaran itu laksana bulan purnama. Dari kejauhan ia nampak begitu sepele. Namun semakin dekat seseorang dengan bulan, ia akan semakin sadar bahwa bulan ternyata terlalu besar untuk digenggam dengan jemari kecilnya.

Mungkin Nabi Muhammad, sebagai manusia paling bijak, kini sedang menunggu di bulan sembari tertawa melihat tingkah polah umatnya yang sok tahu.


Kaum fundamentalis adalah kaum yang kejam, mereka telah membuat resah banyak sekali manusia hanya karena berbeda sudut pandang. Begitu juga para aktivis yang rakus, mereka rela melakukan apa saja demi meraih kemenangan termasuk makan teman sendiri. Para ulama dan cendekiawan juga tak kalah bejatnya, mereka asyik terbang sendiri, kaum kecil yang sekedar ingin bersalaman susahnya minta ampun. Penulis sendiri tidak kurang keparatnya, karena sewenang-wenang menuduh.

Tapi inilah dunia, tak pernah ada manusia sempurna yang hidup dengan kebenaran sejati. Kebenaran sejati tidak berbicara tentang baik dan buruk, karena kebaikan dan keburukan itu relatif, tergantung dari sisi mana manusia mau memandang. Sedang kebenaran itu abadi dan kekal tak pernah usang dimakan waktu dan tempat.

Dalam suatu ekspedisi ke pedalaman Kalimantan, seorang antropolog beragama Islam bertemu dengan seorang pemuka kepercayaan setempat yang masih sama sekali asing dengan konsep-konsep modern agama, termasuk Islam. Akan tetapi dalam perbincangan lebih lanjut sang antropolog malahan menemukan adanya beberapa kesamaan dalam konsep dasar antara agama Islam dengan ajaran animisme-dinamisme setempat. Sebuah bukti kecil lainnya kalau kebenaran itu milik semua dan untuk semua.


“Dengan memahami arti kebenaran, maka kaum fundamentalis tidak terlihat sekolot itu dan golongan cendekiawan tidak menjadi sepintar itu”

“Jika Islam adalah agama yang mengajarkan kebenaran. Maka harusnya kita sadar kalau musuh Islam adalah apa-apa yang telah lahir semenjak diciptakannya kehidupan, dan akan terus ada hingga Barat hancur kelak”

Manusia Keparat


Orang bilang Muhammad itu manusia paling sempurna, saya jawab Muhammad cuma manusia biasa; Orang bilang Alquran itu sakti mandraguna, saya jawab Alquran itu benda mati; Orang bilang malaikat itu makhluk Tuhan yang paling suci, buat saya benang pemisah antara malaikat dan kotoran hanyalah seuntai benang tipis; Orang bilang saya keparat, kali ini saya setuju

Tapi karena Muhammad adalah manusia biasa, maka ia akan selalu menjadi teladan yang nyata bagi saya; Karena Alquran adalah benda mati, maka ia akan selalu ada ketika saya membutuhkannya; Karena benang pemisah antara malaikat dan kotoran ternyata begitu tipis, saya bisa melihat malaikat di mana-mana; Karena saya adalah seorang keparat, maka saya begitu rindu untuk menjadi mulia



Sumber utama ajaran Islam ada dua, Alkitab dan Alhikmah. Alkitab biasa diartikan sebagai Alquran sedangkan Alhikmah sebagai Sunnah rasul, keduanya saling melengkapi dan menguatkan. Ketika anda membaca ayat Alquran yang memerintahkan solat, anda mendapatkan tata caranya dari hadits nabi.

Alquran sebagai ummul kitab memang tidak menjelaskan segala sesuatunya secara terperinci, melainkan lebih sebagai sumber inspirasi bagi manusia. Begitulah kemudian beberapa ayat Alquran baru menemukan kebenaran ilmiahnya lama setelah Muhammad mati. Katakanlah sebuah ayat yang menegaskan jika pada awalnya langit dan bumi itu satu. Ayat ini jelas akan sulit diterima mereka yang terbiasa berpikir distingtif - mendua, antara subjek-objek, dia-aku, hitam-putih, jahat-baik, barat-timur, wanita-pria, langit-bumi, dan seterusnya. Namun nyatanya dunia sains kontemporer menunjukkan adanya sebuah prinsip umum yang menyatukan alam semesta, dan betapa ternyata alam semesta berkembang secara simultan.

Karena sifat dan fungsinya yang seperti inilah, Alquran bukan satu-satunya Alkitab melainkan alam juga merupakan bagiannya. Keduanya diciptakan langsung oleh Tuhan dan mengandung “ayat-ayat” kebesaran-Nya. Begitupun Alhikmah tidak saja berarti Sunnah rasul, namun juga pikiran dan rasa yang dimiliki setiap insan. Alquran dan alam memang luar biasa indah dan megahnya, namun Muhammad dan manusia seluruhnya tetap saja beberapa derajat lebih tinggi.


“Jika anda terlalu mengagungkan seekor sapi sehingga membiarkannya berkeliaran menyebarkan bibit-bibit penyakit dan mengganggu ketertiban umum, maka sungguh anda telah merendahkan kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada anda. Pun demikian jika anda sampai mengorbankan nurani dan keluarga yang anda miliki gara-gara sebuah ayat, sungguh anda termasuk orang yang semena-mena.”

“Kisah orang-orang bijak sebelum lahirnya Muhammad dan cerita penemuan-penemuan revolusioner orang-orang kafir, memaksa kita untuk segera sadar kalau Alquran bukan satu-satunya sumber kebenaran”